Saturday, May 2, 2009

Guns Of Love

I know we're saying "Peace!" when our hearts are still loaded with anger, ache, fear and vengeance. We're so afraid of our differences, so we despise others. Today I remember a song from one of my favorite bands, The Moffatts. This song is in their old album, when they stil sang Country songs, at about under age 10.


This is the lyric:



Guns Of Love 

With Guns of love brought into battle
The nights will burn like never before
Pride will fall and foundations rattle
When guns of love put an end to war

I don't mean to say we should all surrender
I don't mean to say we shouldn't do our part
But when it comes time to choose our weapons
Tell me what's to keep us from reaching for the heart
You know how strong a little love can be
So try and imagine all the power you'll see

I don't understand why nothing changes
We take the same roads time and time again
We let it all ride on pride and vengeance
Knowing it's a game nobody's gona win
So bet all your anger if that's what you choose
But nothing's gonna change, everybody's gonna lose

If we get another shot
We better try to aim a little higher (HIGHER)
It's gonna take a lot of thought
But we can't keep fighting
Fire with fire (WITH FIRE, WITH FIRE)

Der Frieden, La Paix, Achukma, Mir, Shalom
Heiwa, Salam, La Paz, La Pace, Peace

Labels: ,


read more...

Friday, February 27, 2009

She Supposed to be My Servant, Not My Master...

Ini adalah kisah hidupku...

Ini adalah posting dari blog ini, yang gw bajak. Karena bagus, mengena, dan gw pikir semua org juga demikian. Nah, go read and be inspired...

Seri Pacaran: 2. The Battle of Egos
Dulu waktu saya kuliah (and it’s been a long time), saya punya pacar. Kami saling mencintai tetapi waktu itu saya tidak tahu mengapa kami tidak bahagia. Hal ini lama sekali menjadi pertanyaan saya karena menurut saya logikanya adalah: Dua orang yang saling membenci akan menderita sementara dua hati yang mencintai akan bahagia. Begitu keyakinan saya waktu itu. Cukup lama saya pacaran dengan dia. Beberapa kali putus tetapi selalu nyambung lagi karena kami berdua memang tidak ingin berpisah. Kami hanya tidak tahan dengan pertengkaran yang terlalu sering terjadi hingga menguras energi kami.



Akhirnya kami berpisah juga tetapi sejak saat itu saya seperti terobsesi untuk membuka misteri ini: how to have a happy love relationship. Buat saya ini memang misteri. Ketika menyebut kata “cinta” seharusnya pikiran kita secara otomatis menghubungkannya dengan kata: indah, berbagi, bahagia, fun, kebersamaan, aman, memberi, menerima (bukan mengambil), senyum, hangat, diterima, dilindungi, dihibur, damai, sejuk, rindu, dan sebagainya. Sementara tidak demikian dengan saya waktu itu. Kata ini lebih sering terhubung dengan jengkel, cemburu, marah, egois, terkekang, salah, stress, pusing, ngga ngerti, ngatur, bingung, sebel, kecewa, nangis, sakit hati, sedih, hancur, tidak punya perasaan, dsb. (“Cape deeh....” kata anak kedua saya. Emang!) Pikiran saya selalu mengatakan, “There must be something wrong somewhere.”

Selidik punya selidik (nyelidikinnya juga lama lho) akhirnya saya temukan, ternyata ada sesuatu yang menghambat kita dalam memberi dan menerima cinta. Sesuatu itu namanya Ego. Ego yang adalah pelayan kita, merupakan bagian dari pikiran yang fungsinya untuk mempertahankan gambar diri kita. Cara kerjanya seperti survival instinctnya binatang, jika terancam akan menyerang untuk mempertahankan hidup. Tentu saja concern ego bukan mengenai kelangsungan hidup fisik tetapi kelangsungan kehidupan yang mempengaruhi gambar diri tuannya.

Arti hidup

Mari kita berfilsafat sejenak. Kita merasa hidup jika kita memiliki arti. Seorang nenek, tetangga di kampung halaman, baru-baru ini bunuh diri karena cucu kesayangannya diambil oleh orangtuanya dan tidak boleh diasuh oleh neneknya lagi. Nenek ini bukan satu-satunya yang melakukan hal ini. Banyak orang merasa tidak ada gunanya lagi hidup karena tidak menemukan arti dalam hidupnya. Untuk bisa terus merasa berarti manusia membutuhkan objek untuk mencurahkan perhatiannya. Obyek ini bisa berupa pekerjaan, hubungan seperti keluarga, pacar atau persahabatan, lingkungan, gereja atau organisasi tertentu, dsb. Tugas Ego adalah untuk mempertahankan peran orang tersebut di tempat yang telah dipilihnya. Semakin kuat posisi seseorang dalam hubungan yang dipilihnya, semakin aman egonya sehingga ia tidak mudah terancam.

Ego the Servant

Sebetulnya tugas Ego lumayan berat. Ia sangat sadar akan hukum yang berlaku di kehidupan jasmani ini yaitu; the survival of the fittest (yang kuat yang menang). The fittest disini tentunya juga termasuk the prettiest, the richest, the highest, the most competent, the smartest, dsb. Mengingat manusia di bumi ini banyak sekali, Ego sadar bahwa ia tidak bisa menjadi the fittest selamanya karenanya ia jadi sangat mudah khawatir dan panik. Setiap saat, setiap waktu seseorang bisa mengambil posisinya.

Sebagai pelayan, Ego adalah hamba yang sangat rajin. Ia cepat sekali meresponi apa yang tuannya lihat dan dengar. Mari kita lihat contoh cara ego bekerja. Akhir-akhir ini Wulan, sering mendengar pacarnya, Donny memuji Ajeng, teman kantornya. Ego Wulan mengartikan pujian tersebut sebagai tanda bahwa Wulan bukan lagi Donny’s best girlfriend. Ego terancam. Iapun mengirim tanda bahaya ke otak supaya otak mengambil tindakan. Contoh lain, sudah seminggu ini Donar tidak pernah menelpon Santy padahal biasanya paling rajin. Ego Santy terancam, mengartikan hal ini sebagai tanda bahwa Santy sudah bukan orang terpenting lagi dalam kehidupan Donar. Tanda bahaya dikirim ke pikiran.

Begitulah yang dilakukan Ego setiap kali merasa terancam ia akan mengirim sinyal bahaya ke otak. Otak kita memiliki program untuk mengahadapi bahaya, baik itu program bawaan yang sudah tertanam di dalam tubuh kita sejak dalam kandungan, seperti survival insting, atau yang kita pelajari dalam kehidupan ini. Tugas kita, sebagai tuan atas ego, adalah untuk tenang sehingga bisa meresponi tanda bahaya tersebut dengan bijaksana. Jika kita tempatkan ego pada posisinya maka ia akan sangat membantu kita. Tetapi jika kita biarkan ego menguasai pikiran kita maka ia bisa merusak seluruh kehidupan kita karena bagi Ego semua manusia di bumi ini adalah saingannya. Jadi baginya mereka adalah musuh yang berbahaya.

Ego and Unhappy Love Relationship

Terus apa hubungannya antara ego dengan unhappy love relationship? Dalam sebuah hubungan pastilah banyak terdapat perbedaan – perbedaan pendapat, perbedaan prisip, kemauan, sifat, kebiasaan, status sosial, latar belakang pendidikan, dll. Sesuai dengan tugasnya untuk menjaga gambar diri tuannya sebagai the best, sikap ego dalam menanggapi perbedaan adalah, dia harus menang : pendapatnya harus didahulukan, orang lain yang harus berubah, yang harus mengerti, yang harus menyesuaikan, yang harus mengalah dsb. Jadi pacaran tidak berfungsi sebagai ajang pengekspresian kasih tetapi lebih menjadi medan perang – siapa mengalahkan siapa, siapa menguasai siapa.

Tidak heran saya dulu tidak bahagia dengan pacar saya. Ketika saya lihat ke belakang, ternyata kami dulu memang masih dalam penjajahan si Ego. Saya bilang penjajahan karena sebetulnya Ego itu kan pelayan kita tapi saya biarkan ia mengatur saya.

Jadi bagaimana supaya pikiran kita tidak dikendalikan Ego?

Salah satu trik ego supaya kita tidak berubah adalah dengan mengatakan, “Memang sifat saya begini.” Tidak mau berubah itu memang sifatnya Ego. Karena Ego merasa aman di area yang dia ketahui. Berubah artinya masuk ke area yang baru dan ini sangat menakutkan bagi Ego karena dia tidak tahu medan perang.

Supaya tidak mudah dikuasai Ego, kita harus membawa pikiran kita ke tujuan yang lebih tinggi daripada kelangsungan hidup di bumi ini. Kita harus terus menerus belajar untuk meyakini bahwa apapun yang dikhawatirkan oleh Ego telah dijawab semuanya oleh Yesus, juru selamat kita.

To win or to be happy?

Pada suatu hari saya dan Stephen terlibat pertengkaran hebat dan ia memenangkan pertarungan tersebut. Ia puas sementara saya masuk ke kamar sakit hati. Tapi tidak lama kemudian ia datang meminta maaf, katanya, “I won but now I feel very lonely. Please, don’t be sad, darling. You were not wrong, I was.” Dr. Phil McGraw, seorang psikolog terkenal dari Amerika menanyakan, “Mana yang anda lebih suka: menang atau bahagia?” Pertanyaan ini cocok sekali menggambarkan apa yang Stephen rasakan waktu itu. Ia bisa menang atas saya istrinya tapi hubungan kami jadi renggang dan itu menyiksanya. Akhirnya ia memutuskan bahwa siapa yang salah dan siapa yang benar bukan hal yang penting lagi. Ia memilih untuk mengasihi istrinya dan bahagia. Ia telah menang atas egonya.

Yang perlu kita taklukkan bukanlah pasangan kita melainkan ego kita masing-masing. Saya percaya kasih itu indah. Jadi jangan biarkan ego menghancurkan keindahannya. (A&S)




Thanks to Agnes bwt inspirasinya. Maaf sy bajak... :P
Selama ini gw bnyk dengar orang bilang, musuh yang tersulit untuk dikalahkan adalah diri sendiri. Bagi gw pernyataan ini abstrak. Setelah baca artikel ini, gw kaya orang yang ada di ruangan remang2 dan tiba2 seseorang menyalakan lampu bwt gw. I can see clearer now.. :)

Labels:


read more...

Wednesday, February 25, 2009

Go Green!!

Sehubungan dengan tema yg mau saya angkat tuk ngajar anak2 binaan saya di sekolah minggu, hari ini mo posting dikit ah, tentang "Go Green" ini...

Terus terang, sebetulny tema ini juga rada2 nyindir perilaku saya sendiri sehari2. Mulai dari pemakaian listrik yg sembrono, air, tissue, kertas, bahan bakar, sistem pembuangan sampah yg ga ramah lingkungan, yah pokoknya hal2 kecil yg biasany saya lakukan dengan seenaknya karena udah kebiasaan.

Pikiran selama ini sih, alah, cmn gitu doank... ga ngefek bnyk deh kayanya. Tapi kalo diingat2 bahwa mungkin aja sebagian besar orang hidup dengan gaya seperti saya, sepertinya it will matter a lot, not to mention in the long run...

Ketika menonton berita pembalakan liar di tv, krisis air, banjir, pemanasan global akibat polusi, saya sering emosi sendiri. Secara naluriah, langsung nyalahin pemerintah dan pengusaha2 yg seenak udel menggunakan duit dan kekuasaan mereka untuk tidak mempedulikan lingkungan dan alam.

Padahal... kayu yg ditebang itu dipake buat bikin kertas dan tissue yg sehari2 saya pake dengan, uh, boros bgt yee... dikit2 print, dikit2 pake kertas baru padahal bnyk kertas terpakai yg di belakangny msh bersih. Dikit2 pake tisue, padahal ada lap kain yg bisa dicuci dan dipake ulang. Nah, karena mau enak dan serba praktis itu lah saya sudah menambahkan demand untuk pabrik kertas dan tissue untuk meningkatkan produksi mereka. Yg artinya lebih banyak pohon lagi harus ditebang. Walopun demand dari saya itu sedikit, tapi lama2 kan banyak jg ya, apalagi klo ternyata bnyk org pny sikap seperti saya.



Begitu jg dengan produk perawatan kulit, maunya yg bisa melembabkan kulit saya yg kering. Maka belilah saya produk2 yg mempunyai kandungan moisturizer yg tinggi. Padahaal, moisturizer itu asalnya dari palm oil. Semakin banyak demand untuk produk2 ini, maka semakin banyak juga lahan yg diperlukan untuk menanam pohon2 palm ini. Hutan lagi yg jadi korban. Dibabat untuk menanam pohon-pohon untuk kebutuhan produksi.

Lah emang apa jeleknya? kan sama2 pohon ini..

Tentu ada, jawabanny bisa dibaca di website greenpeace ini sekalian bisa sekalian ikut sign sebagai dukungan atas petisi yg diajukan Greenpeace terhadap perusahaan unilever. This is INDONESIAN forrest that we're talking about. OUR forrest...

Begitu juga dengan pemakaian listrik. Jujur ni, di rumah saya, siang2 pun di ruangan tertentu kami tetap menyalakan lampu. Apa sebab? di belakang rumah saya persis itu adalah bangunan sebuah SMU yg berlantai 3, jadi akses cahaya sangat sedikit karena ketutupan gedung sekolah itu. Samping kanan kiri, bok, rumah2 tetangge aye tuh, berantai 2 dan 3. Sami mawon. Terus berhubung Ayahanda saya matanya sudah nggak bagus, beliau memang butuh penerangan lebih. So, saya pikir gpplah, karena terpaksa. Tapi kadang kalo pergi, lampu2 tersebut lupa dimatikan. Buang2 listrik jadinya. Should remind myself from now on..

Trus beberapa kenalan saya, mengaku tidak bs tidur kalo tidak pake lampu. Jadi semalaman lampu kamarnya dibiarkan menyala sampe pagi. Untuk kasus seperti ini sepertinya ada solusi yg lbh baik. Yaitu pakelah lampu tidur yg makan energi lbh sedikit. Jd remang2 gt tidurnya, romantis dan irit.. :)



Kenapa? Karena kebanyakan pembangit PLN itu masih menggunakan BBM sebagai bahan bakarnya. Kita semua tau bukan, kalo hasil pembakaran BBM itu adalah karbondioksida alias asap. Yang bikin polusi udara sehingga menimbulkan efek rumah kaca. Maybe we do have enough money 2 pay the bills, but for the sake of our nature and the world we're living in, kita teuteup... harus ngirit. Oyah, saya juga sering liat pemborosan pada pemakaian AC. AC nyala tapi pintu terbuka lebar, ya terang udara dinginnya lepas bebas ke luar sana. What a waste... Jadi, mari kita selalu ingat untuk menutup pintu ruangan yang ber-AC.



Berikutnya adalah soal AER. Sering saya nemu keran di tempat2 umum yg ngocor dengan derasnya tanpa ada yg peduli. Itu aer PAM looh, somebody's gonna pay looh.. Yah, biarpun bukan saya yg bayar, tapi rasanya sayang juga air bersih gt terbuang2 percuma. Berjam2 mengucur dengan deras, apalagi berhari2, berapa galon tuh? Padahal di beberapa daerah ada orang2 yg harus antre untuk beli air bersih dengan mahal pula.
Disini kebanjiran, disono kekeringan... tragis emang.






Next thing is, SAMPAH. Duh ini mah, emg org Indonesia bgt, suka buang sampah seenak jidat. Ga memandang kaya miskin, buta huruf or berpendidikan tinggi, SAMA AJA. Saya pernah liat sampah dibuang keluar dari jendela sebuah mobil mewah, bemo, sepeda motor, atau pejalan kaki. Mak werrrr, sampah ilang. Bodo amat mo nyangkut di muka orang kek, ketendang kucing kek, keinjek ban kendaraan laen. Ga peduli. Yang penting gampang dan praktis. Memang praktis kalo menganggap jalanan itu sbg tempat sampah umum. Kendaraan kita bersih, jalanan kotor mah bukan urusan gw.



Pernah juga saya liat di jalan ada orang yang nyapu halaman, lalu sampahnya itu dia buang di selokan. Yap. Berhubung rumahnya di jalan besar, jadi selokannya pun cukup besar. Plung, gt aja. Tanpa dosa. Ga mikir itu sampah nanti mo kemana, nyangkut dimana yang kalo hujan nanti bisa bikin buntu saluran air sehingga bikin banjir. Ga ada kesadaran sama sekali. Ntar kalo dah banjir paling ngomel2, pindahin barang2, ngungsi, dan bilang ini takdir. Geez...



Gimana dengan toilet? hmm, bagi saya, wc teraman itu adalah wc di rumah. Yg kedua wc kantor krn tp hr dibersihin. Tp itu jg teteeep aja ada yg suka buang tissue tidak pada tempatnya... Padahal sih harusnya semua berpendidikan lumayan tinggi. Kalo di tempat umum lain, paling ngeselin kalo nemu toilet yg masih ada "peninggalan" dari pemakai sebelumnya. Entah padat atau cair (apakah itu?). Saya pikir saya ini udah malas, tapi ternyata ada org yg "membereskan" kotorannya sendiri aja enggan. I mean, orang macam apa sih yang ngurusin "polusinya" sendiri aja malas??



Mari kita didik diri kita sendiri sebelum kita menghujat pemerintah dan orang lain. Kata lainnya, mari kita benerin diri kita sendiri dulu sebelom membenarkan org lain. Lets start from ourselves. We are part of this world. What we individually do, does have effect to this world...

Nah, saya sudah berceramah cukup panjang hari ini. Sebelum kepala saya berasap, saya cukupkan sekian dl.. :)

cheers.

Labels:


read more...

Saturday, February 7, 2009

Bagai Makan Buah Simalakama

Mo share dikit ni. Gw baru pulang nonton Transporter 3 di Wisata. Bioskop 21 yg waktu jaman gw abg dulu terbilang lumayan keren, tempat nongkrong asik dan ga pernah sepi pengunjung. Selalu ter-update dengan film2 yg lumayan baru dan waktu itu ga pernah ketinggalan jauh dr resensi film di cinema2.
Sekarang, cuman jadi tempat yang terpaksa dikunjungi dikala gw ketinggalan nonton pilem bagus di Galeria, dan mencari layar lebar dengan harga murah meriah.

Wisata, sekarang lebih mirip bioskop di tengah pasar. Lingkungan yg kumal, lusuh saking berumur dan emang ga ada tanda-tanda usaha perawatan supaya keep-up dengan perkembangan jaman.
Mirip sepeda motor gw. Yang emang sengaja ga gw cuci untuk persiapan lomba motor terkotor se-Denpasar Selatan pas 17 Agustus-an ntar... Ga percaya? Sama.

Sebenernya, walopun gw telat masuk, film Transporter 3 nya lumayan jg... (I mean, nonton Jason Statham brantem sambil striptease? C'moon.. Look at those muscles.. and those awesome cars n actions n explosions... Who cares about the damn story? I'm entertaining my eyes.. if my eyes happy, my brain too.)

Selesai membodohi diri sendiri, gw harus kembali ke realita. Yang artinya mengusap iler gw, lalu beranjak pulang. Sampe tempat parkir, seperti biasa buka sadel motor, pake helm, jaket, lalu.... ada seorang bocah abg gaul dan cakep menadahkan tangan ke gw. What?

Gw pikir ni bocah main2. Kurang ajar ya, mainin orang tua. Ini kan dah di luar bioskop, bukan pelem. Stop playing around. Mana ada pengemis betulan yg cakep, kinclong dan gaul? Kecuali di sinetron Indonesia yang emang para gembelnya berambut keren (bahkan di-highlight rapih), kulit mulus tanpa noda kecuali make-up gelap yang keliatan banget sengaja dioles2in ke mukanya yang segar merona n ga keliatan kek org susah makan.
Jadi yg ada cmn gw pandangin aja tu bocah dr atas ke bawah. Rambutnya model gaul, muka bersih, mata sipit (no offense), baju oke, lalu tangan yang ada gelang2 gaulnya. Dalam penerangan yg remang2 itu gw beneran memelototi gelang di tangan bocah itu untuk mencari pembenaran bahwa ni anak mampu beli gelang gaul. Pasti bukan anak miskin. Pasti anak orang kaya lagi iseng.

Lalu setelah menemukan bahwa gelang yg dipakenya itu adalah gelang-gelang karet yg biasa dipake mak gw bwt ngiket tas plastik jadi satu, gw baru lumayan percaya kalo ni anak bisa jadi emang pengemis beneran. Tapi tetep aja, gw msh clingak-clinguk mencari orangtua or sopir yg keliatan bakal ngajak anak ini pulang naik mobil menuju ke istananya. "Kamu sekolah ga?" gw tanya. Dia menggeleng. "Kok ga sekolah?" tanya gw lagi, sambil berharap sopir or pembantunya anak ini segera datang untuk membujuk tuan mudanya berhenti ngisengin gw. Dia beranjak pergi. Gw dah lega, gw pikir akhirnya dia sadar ini dah malem n dia nyamperin sopirnya untuk pulang. Ternyata dia nyamperin org lain dan minta2 lagi... Saat itulah gw bener2 percaya, ni anak emg pengemis betulan.

Eh, dateng satu lagi yg lebih kecil nadahin tangan ke gw. Gw udah merogoh ke tas, tp yg gw lakukan malah nginterogasi tu anak. "Kamu ga sekolah? Dah malem kenapa ga pulang? Sana pulang tidur, ntar dicariin bapak ibunya loh.." Tu anak cmn menatap gw. Bibir rapat dengan tangan masih nadah. Gw langsung naik motor dan berlalu...

Sialnya perasaan gw jd ga enak. Shit.

Why?? Kalo misal itu orang dewasa dan masih muda, gw seperti biasa bakal bilang, mbak/mas masih muda, kuat. Kerja dong? Kalo orang tua, ga mikir2 gw bakal langsung kasih dengan pikiran gw membantu org yang lemah dan ga kuat bekerja. Nah kalo anak kecil? Kalo gw kasih maka hati gw bilang, lo membiasakan anak kecil mendapatkan uang tanpa bekerja. Itu tidak mendidik dan membuat mereka bodoh selamanya! Sedang kalo gw ga kasih, maka hati gw ngomong lagi, pelit banget sih lo? ngasih duit ga seberapa aja kok ga mau. Kalo mereka males, emangnya lo nggak?! nah lo.. Serba salah dah gw.

Karena mo ga mau harus diakui, kalo gw ini org malas yg beruntung. Beruntung karena terlahir di keluarga yang mampu kasih gw makan cukup, kasih pendidikan cukup, kasih pengarahan yang benar tentang hidup ini. Tapi gw pun sebenarnya ga kalah malas dr mereka. Kenapa gw boleh hidup senang dan mereka tidak?

Maka dari itulah, yang gw lakukan tadi hanya babbling dan mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan ga mutu pada 2 anak tadi. Maunya gw mengeluarkan perkataan bijak yg mempu menggugah mereka untuk besok2 berusaha dengan giat bekerja dengan lebih baik. Supaya mereka sadar dan punya tekad kuat untuk tidak jadi pengemis selamanya. But well.. I'm not a preacher...

Emang ga ada gunanya sih gw ngomel2 disini mengenai anak-anak miskin. Yang ada gunanya adalah klo gw take action, turun ke jalan dan mendirikan sekolah gratisan untuk mereka. Tapi gw lom ada nyali dan niat yg cukup untuk itu. So... this is just another post. Another No Action Talk Only from Maria Angelica Saraswati....



Don't Judge This Book (by The Moffatts)

If they only knew
How I felt inside
Maybe they'd understand
If they only knew
What I could do
Maybe they'd understand

Just give me a chance
and I'll prove it to you
There's so much I can do
Don't judge this book by its cover
I just look different than you

We've all got our talents
They're not all the same
I wish they'd understand
If they'd look past this cover
my story'd begin
Maybe they'd understand

Just give me a chance
and I'll prove it to you
There's so much I can do
Don't judge this book by its cover
I just look different than you

It's not the clothes I wear
Or the color of my hair
I've got the will and
I've got the heart
I just wish someone would care

Just give me a chance
and I'll prove it to you
There's so much I can do
Don't judge this book by its cover
I just look different than you

Labels:


read more...

Saturday, January 10, 2009

Resolusi Taon Baru

Yak ini adalah kedua kali gw mencoba posting dg tema resolusi taon baru. Yang sebelumnya gw bikin in English bbrapa hr lalu tp sayang ilang ntah kemana gara2 koneksi starone nan lelet, slash mati segan hidup tak hendak, slash putus sambung kek cinta monyet anak abege. (huff... kalo gw ga butuh2 amat ama inet, maksutnye dah lebih kaya dr sekarang, pst dah gw off-in nih starone n milih provider yg lbh afdol. Tp apa daya budget terbatas, mampunya cuman ini... ya sutralah trima aje. hiks...)
So, kali ini sehubungan dg kampanye cintailah produk dalam negeri, gw posting dalam bahasa indonesah aje dah. (gayanya, padahal males mikir, wkkkk)

Kenapa kita butuh bikin resolusi taon baru??
Kenapa yah? Kalo taon lalu sih berhubung ga berasa bgt taon barunya, gw ga bikin resolusi apa2 alias lempeng aja. Kalo sekarang... mungkin rada terinspirasi dari postingannya Mas Agus (or Bli Agus ya? hoho..) dan jg berkenaan dg rencana BESAR gw dan my hunny taon ini (Rencana BESAR apa? Ada deeehhh... heuheuheuhe...), taon 2009 ini keknya bener2 bakal berasa bgt bwt gw..

Beberapa resolusi gw ialaah... jeng jeng jeenggg!!
1. apa yah? kok jd lupa (wkkk), oiyah, lebih serius dan bertanggung jawab dalam bekerja. Mengingat track record gw tahun lalu yg ga terlalu baik di kantor (jujur ne!) mungkin disebabkan karena kantornya yg kelewat asik (alesan!!), sering g ada kerjaan, dan dimanjakan dengan kopi, teh, susu gratis, akses internet cepet (walopun rada terbatas, sigh...), blom lg dengan teman2 kantor segenerasi yang hobinya menge-share (wew, bahasa paan sih ne, najong bgt) filem2 layar lebar yg lebih maju dari bioskop2 terdekat, filem2 serial barat yg jauuuhh lbh maju dr tv swasta yg kebanjiran shitnetron (woops, kata ini kekny dah di copyright sama oknum2 tertentu, wohohohoh), komik2 slash manga slash anime, dan yg asik2 lainnya. Gimana coba gw menghadapi semua cobaan2 itu dan lebih memilih utk baca2 e-book coding n programming lainnya?? Sama aja dengan gw disuruh milih mo liburan ke disneyland or ikut seminar programming? hohohoh, sudah jelas bukan jawabannya... Jadi yah, gw sering kurang serius (konsen) pas kerja bilamana ada task. (alright, disamping kenyataan bhw naturally, gw emg lemot. puass?). Eniwei, gw akan berusaha mengingatkan diri gw bahwa gw ke kantor itu tujuannya buat kerja, bukan bwt nobar (nonton bareng), yah tentunya ada beberapa pengecualian, "under certain circumstances" huhuawhuawhuaw...
2. Be more organized. Ini keknya sih udah jadi resolusi gw tiap taon. Dah jadi kek semacam obsesi terpendam (or obsesi ga kesampean?) Kenyataannya gw selalu melakukan apa yg pengen gw lakukan. sayangnya keseringan gw tidak pingin melakukan apa-apa, alias cuman tidur2an doang nonton tipi sambil garuk2 perut (pantat?). (sama sekali bukan tipe calon istri idaman, tp pa bole buat trnyata gw laku juga. Terimalah nasibmu calon suamiku! Nyahahahah!)Pokoknya, gw akan berusaha untuk tidak menunda2 kerjaan (apapun itu), which is actually, naturally, genetically, is in my blood (kalo ga percaya, coba cari artikel untuk sifat2 orang berdasarkan golongan darah. Golongan darah O itu punya kecenderungan utk menunda2 kerjaan, so it wasn't all my fault anyway. Blame it on the blood type.)
3. Memikirkan (dengan serius) rencana2 utk bertahan hidup di masa depan. Maksudnye, mungkin aja gw ga selamanya di dunia perkodingan kan. Jadi gw harus mikirin cara2 lain utk menghasilkan duit dan bertahan hidup di dunia yg materialistis ini (I live in a material world... and I'm a material girl..). Think about... ikut kursus masak dan buka rumah makan (yg jelas bukan rumah makan padang, tar si rezong minta gratisan mulu. wkkk.. oiya ding, dia dah ga disini :P), or... buka toko buku (jadi bisa ngelanjutin hobi lama, baca buku sampe mata juling). Yah.. something like it lah.
4. Yang jelas, and always, try be a better human. Kalo ini sih, lebih ke arah spiritualitas. Perkembangan emosi dan mental supaya gw ga hanya tambah tua tapi juga kalo bisa (KALO BISA) tambah dewasa juga..

Nah so far, itulah resolusi gw taon ini. Kadang gw mikir juga sih, ngapain tiap taon baru bikin resolusi, wong banyakan juga ga kecapai. Tentu aja, ini balik2 lagi ke niat kitanya. Kalo emg niat, ga ada yang mustahil dan imposibil. Tapi bagi gw, bikin resolusi taon baru itu kayak nyervis motor tiap bulan. Loh kok??
Iya, gini critanya.
Dulu pas masih jd mahasiswi miskin di Yogya.. (sekarang jg masih miskin sih, tp titel dah org kantoran, g mahasiswi lg, en duit jg dah banyakan dikit drpd dulu) gw selalu servis motor yamaha crypton merah-putih (bukti nasionalisme gw, warna motor dah nyamain bendera) gw, rutin tiap bulan. Di dealer + bengkel resmi pula. Kenapaa? Karena, di buku servis motor gw (wkt msh baru kan dapet tuh bbrp kali servis gratis di dealer resmi), di halaman berapanya gitu, ada grafik tentang perbedaan motor yang rutin diservis dan yang jarang, bahkan tidak pernah diservis.
Kira2, beginilah grafiknya (ga mirip sih, maklum bela2in bikin sndr pakek ms excel. wkkk niat...)



So, grafik diatas menggambarkan kondisi motor yang diservis secara teratur dan tidak. Yang diservis secara teratur, walopun kondisinya mengalami penurunan, tapi segera naik lagi begitu diservis, turun lagi, naik lagi, turun, naik, turun, naik (kek push up...). Sementara yang jarang diservis or diservis hanya bila rusak parah, kondisinya menurun terus. Keadaan ini dua2nya dah gw cobain. Dulu di Yogya tu motor rajin gw servis, sedangkan selama di bali 2 taon, baru masuk bengkel resmi 2 kali, dan total masuk bengkel 3 kali. I can tell you, the difference is HUGE. Sekarang tu motor jd ancur2an. (maapkan gw motor.... hiks)

Gw pikir, gitu juga dengan diri gw sendiri. Tiap taon kudu diservis (loh. Mo masuk bengkel mbak?). Maksutnye, tiap taon paling gak, gw kudu regain new spirit. Gw kudu meng-charge (halah) diri gw sendiri dengan menenentukan target2, supaya gw tetap semangat untuk selalu berusaha menjadi lebih baik. Biarpun tiap akhir tahun selalu ada target yang gak kecapai (or malah smuanya ga kecapai mungkin?), tapi bukan berarti gw harus putus asa lalu melangkah di tahun berikutnya tanpa arah alias going with the flow aja. Iya kalo flow nya mengarahkan gw ke hal yang lebih baik, kalo mengarah ke arah2 yang ga jelas?? gimana?? (ya ga tauk... Lagian td katanya mo pake bhs indonesah, kok jd nyampur2 genee... - -")

Yah, gitulah maksutnye. Mudah2an aje pada ngerti, klo nggak, ya udah... wkwkwkwk.... Jangan sampe kita jadi orang yg putus asa karena apa yang kita harapkan ga tercapai, tapi selalu ngumpulin semangat untuk jadi lebih baik. Walaupun jatuh n jatuh lagi (jatuh cinta lagiii, lagi lagi kujatuh ciintaaa, harus bagaimanaaa.... cuih, huek)

Ayooo, semangaaaattt!!!!!

Labels:


read more...

Saturday, December 20, 2008

What it means to me

Ni tulisan sbenere dah lama gw bikin. Dipublish di blog gw di friendster.
Tp klo dah mo Natal gini kekny cocok klo gw post disini....


Apa arti Natal buat gw....
Banyak.
Natal itu...
Rame.
Penuh musik yang gw suka.
Full of peace and joy.
Banyak kegembiraan... sukacita... kehangatan...
Banyak tawa.
Banyak sodara.
Banyak temen.
Banyak sms.
Kadang2 ada hadiah juga...
Sometimes... I’m dreaming of a white Christmas...
Yang udah jelas, pasti banyak ada makanan (monya bikin pizza lagi taon ini)

Tapi.. kalo dipikir dan dirasa lebih daalam lagi, apa sih arti Natal yg sebenerny itu menurut gw? Gw bukan org yg beriman tinggi, tapi gw punya pendapat soal hari Natal (watch out guys, I’m talking deep now)

Natal itu kan hari kelahiran Tuhan Yesus...
So, what? Maksudnya apa Dia lahir? Kalo dah lahir trus kenapa emang?
I don’t know about other people, tapi buat gw, Natal or hari kelahiran Tuhan Yesus itu adalah bentuk solidaritas Tuhan terhadap manusia. (nyomot istilah dr buku gereja)

Kalo bertemen, gw selalu mengagungkan solidaritas antar teman. Kalo ada yg sedih or punya masalah, y ditemenin. Dihibur, ditampung curhatnya.. Kalo ada yg g punya duit, y diutangin dulu... Or klo lagi ada tugas, y bikinlah bareng2. Salah or bener ditanggung bersama... Pokoknya, intiny solider. Solider itu menunjukkan kalo kita care, kita tulus, dan kita sayang sama temen kita.

Di hari pertama, Tuhan menciptakan manusia karena Dia sayang bener. Bukan kaya manusia yang nyiptain robot buat diperintah2 n disuruh2 demi kepentingan tuannya. Jadi jelas sayangnya Tuhan sama manusia itu gratis tanpa pamrih. Jauh lebih mulia dari kasih Ibu. Kalo kasih Ibu sepanjang jalan, kasih Tuhan tuh sepanjang jagat deh kayanya. G ada ujungnya.

Hmm... What do you think you’ll do if you have love that BIG to someone? Lo bakal rela ngapain aja deh. Because you love that someone more than the life itself. Matipun rela, demi melindungi orang yg disayangin itu biar g kenapa2.

Bahaya apa yg dihadapi manusia, dah jelas kan. Kalo dah mati masuk neraka. Itu kalo menurut kepercayaan Kristen lho. Sekarang kalo sudut pandangnya dijauhin banget jadinya gini, Tuhan nyiptain manusia, menaruhnya di bumi ini untuk hidup, belajar, mati, trus... harapan berikutnya pasti dah jelas, bisa kembali lagi sama Tuhan. Tapi kok, kayaknya lebih banyak orang yg masuk neraka y, drpd masuk Surga? Manusia tu masih aja kayakny g ngerti gimana caranya hidup sesuai yg diinginkan Tuhan.

Sekarang kalo gw yg jadi Tuhan, dengan cinta yang begitu besoaarnya kepada manusia, masa bisa tenang2 aja ngeliat manusia itu teteep aja hidupnya mengarah menjauhi jalan Tuhan dan mengarah pada kehancuran di tangan setan? Trus abisnya gimana donk. Semua usaha dari ngasih aturan2, batasan2, n ngutus nabi2 juga ga mempan. Gregetan g sih. Tapi kalo nongol tiba2 aja dari langit trus marah2 ato ngasih perintah secara langsung gitu, mana bisa. Tar yg ada pada jantungan semua trus pada mati lagi. Susah.. Jalan satu2ny.. ya turun tangan sendiri ngasih contoh sama manusia gimana cara hidup yg baik, cara mengasihi seperti yg Gw kehendaki (kan tadi misalny kalo gw yg jadi Tuhan). Dengan cara jadi manusia juga. Dengan segala kelemahan yg dimiliki manusia, menghadapi cobaan2 yg dihadapi manusia dan dengan kekuatan yg sama dengan manusia biasa. Kenapa nggak? Namanya aja cinta. Love is blind man. God will do anything for His beloved human. Dia mau ngajarin kita gimana caranya menjadi dewasa (tau kan dewasa? Bertanggung jawab, gak manja, de el el) dan hidup menurut jalan-Nya.

Akhirnya apa? Seumur hidupnya Tuhan Yesus ngasih contoh sama manusia, gimana caranya mengasihi. Bahkan sampe mati. Bukan mati di rumah sakit dengan tenang dan damai, tapi menderita. Tuhan Yesus menunjukkan kalo kasih itu juga adalah memaafkan dan mengasihani. Gak ada kesalahan yg ga bisa dimaafin. Karena itu Dia nunjukkin dengan cara memaafkan dan mendoakan para pembunuh2nya. Dia tetap menyayangi mereka. THAT, my friends, is what you can call, L.O.V.E

Sekarang coba pikir kalo semua orang di dunia ini hidup dengan cinta kasih seperti itu.. Gak mungkin? Emang gak mungkin. Karena kalo itu sampe kejadian, berarti lo dah g di bumi lagi, melainkan di Surga. (Kalo semua orang hidup kaya gitu, g bakal ada perang, g ada tentara, g ada senjata, n yg pasti... ga ada duit!!! Karena semua orang pasti akan bekerja, memberi, dan mengusahakan yg terbaik untuk orang lain tanpa pamrih. Kebayang g sih lo ke toko trus tinggal minta aja ama pedagangnya n dia bakal ngasih gratis dengan senang hati? Trus kebayang g kalo lo akan melakukan apa aja semampu lo ketika orang yg ga lo kenal minta bantuan sama lo? Gw ngebayangin pasti kayak gitu rasanya hidup di surga. Everything is for free, man!)

Kalo dah tau manusia tu gak mungkin semuanya hidup sesuai dengan keinginanNya, ngapain Tuhan repot2 ngorbanin diri? Sia2 donk, usahanya..
Yah, namanya juga Tuhan. Emang bokap nyokap lo waktu ngelahirin dan ngerawat lo dah yakin 100% kalo lo bakal jadi seperti yg mereka harapkan? Pasti mereka juga tau kalo ni anak g bakal jadi anak yang sempurna. Tapi sekali lagi, namanya aja CINTA bo... pengorbanan demi cinta ga ngitung untung rugi, berguna ato sia2, yg penting berusaha semaksimal mungkin, sehabis-habisnya buat orang yg dicintai tanpa mengharap imbalan apapun...

Kadang orang ngerasa sendiri.. ga ada yg mencintai dengan tulus.. Well, HE, The One who created you, is always there, loving you, watching you, and He never sleep... Bahasa Rusianya, Gusti Allah ora sare.

That’s what Christmas means to me...
Merry Christmas everybody, lets try give this world some love that it needs desperately..



"You Needed Me"

I cried a tear
You wiped it dry
I was confused
You cleared my mind
I sold my soul
You bought it back for me
You held me up
You gave me dignity
Somehow You needed me

You gave me strength
To stand alone again
To face the world
Out on my own again
You put me high
Upon a pedestal
So high that I could almost see eternity
You needed me
You needed me

I can't believe it's You
I can't believe it's true
I needed You
And you were there
And I'll never leave, why should I leave?
I'd be a fool
I finally found Someone who really cares

You held my hand
When it was cold
When I was lost
You took me home
You gave me love
When I was at the end
And turned my life
Back into truth again
You even called me 'friend'

You gave me strength
To stand alone again
To face the world
Out on my own again
You put me high
Upon a pedestal
So high that I could almost see eternity
You needed me
You needed me....

Labels:


read more...

Sunday, December 14, 2008

The advertisement slogan that I despise

Generally i don't like most of advertisements, but this one is really piss me off.
What is it? It's Tje Fuk's, and simply just their slogan "Cantik itu putih"...
It's like the most stupid slogan I've ever heard. Are they so lack of positive-yet-inspiring slogan to sell their whitening skin products?



What "cantik itu putih" means anyway? And also those stupid guys and their stupid testimonials which are so not educative. They try to brainstorm people that a woman should be white to be beautiful. That is so ridiculous. How about Beyonce Knowles? How about Halle Berry? Anggun, Shanti etc? They're dark skinned and they're beautiful and adorable.





Maybe these people never heard the word "exotic"

Anyway, white skin can be beautiful, dark skin can also be beautiful. I know they just want to sell their products. But it's better if they can think of other positive and more educative slogan. This statement "cantik itu putih" and those stupid guys testimonials are so underestimating many of indonesian girls who generally have darker skin. So what if we don't have white skin? Meaning we're not beautiful? Hey, we don't need any judgement from stupid guys who never see other part of the world, where white skinned people do sunbathe to get sexier dark skin! I invite them to come to Bali to see Japanese or Taiwan girls wearing bikini while they enjoy the sun beam in Kuta beach.

In the end, I just wanna say that we should be grateful to whatever we have. White skin, tan skin, dark skin, whatever. We just have to take care of it so our skin would look smooth, radiant and glowing. That's what beautiful skin suppose to be, whatever the color is.

Me myself, I don't care too much about my skin... :D I won't say my skin is beautiful either. I'm happy the way I am... :)

Labels:


read more...

Husbands: Here's How to Have a Great Wife!

I got this from other blog and pretty inspiring. So I copy paste it here. Unlike my usual pirating habit :P, this time as she recomended, I also mention the writer of this nice article :)

Hope this article bring something good to you.. :)



(Andrew Tallman)

“He who finds a wife finds a good thing, and obtains favor from the Lord,” and he who nourishes a wife preserves a good thing and maintains the favor of the Lord.

God allowed you to find your wife because He believed you would take good care of His precious daughter. This is why you obtain the dual blessings of having her and pleasing Him. But what happens when you don’t take good care of your wife? A man who neglects his wife makes her miserable and then she makes him miserable. As the saying goes, “When mama ain’t happy, ain’t nobody happy.” But she isn’t the only unhappy one. I believe you also anger God by betraying His confidence in trusting you with her. After all, what father is happy when his son-in-law fails to keep his darling content?

I’ve been to many weddings, and I have yet to see a woman stand at the altar promising to “love, honor, and obey so long as you both shall live” while thinking to herself, “I despise this man, and I expect this marriage to make me miserable.” Not likely. She stands there with hope, anticipation, love, admiration, and the expectation of great joy in her heart. Unfortunately, if you fail to meet her needs and fulfill her hopes, she will not stay that way. The best way to ruin a good woman is to marry her and then fail to give her what she expected to receive.

Oh, sure, perhaps she exerts a tremendous effort and manages to stay sweet and wonderful in spite of you neglecting her. Even the Bible teaches her to love you into being a better man. But to expect or demand this from her is naively optimistic and, quite frankly, unfair. There is a much better way: the Biblical way.

When we quote Ephesians 5, men often emphasize the wife’s duty to submit. Okay, fine. But the husband’s duty is to love his wife as Christ loved the Church, His Bride. In thinking about the relationship between Christ and the Church, who has the greater challenge? Who does more? Who is primarily responsible for the ultimate success of the relationship? Your obligation to represent the love of Jesus in your marriage is a monumentally greater task than your wife’s obligation to represent the submission of the Church.

So, what does it take to have a great wife? Simple. Be a great lord. And what does it take to be a great lord? Equally simple. Know the needs and desires of your wife and meet them. If you don’t, she will become just the sort of wife you don’t want: nagging, withholding, bitter, and frustrated. God gave you a beautiful flower. He does not expect a dead thorn bush in return. You’d have done better to remain single than to so ruin the beautiful human rose He entrusted to you.

That’s the simple part. It may be unpleasant to ponder, but it’s simple. Your job is to nurture, cherish, love, honor, serve, provide for, lead, impress, and protect your wife. And if you never stop doing this, the chance that she will be a great wife is very good. Yes, she retains free will and may fail on her part, but, when you do your part, it becomes much easier for her to do hers.

So how is this to be accomplished? This is where things get dicey. Willard Harley wrote a very helpful book called “His Needs, Her Needs,” in which he outlines the top needs of women. They include affection, conversation, honesty and openness, financial support, and family commitment. This is all true. Gary Chapman wrote another helpful book called “The Five Love Languages,” in which he talks about giving love through gifts, quality time, words of encouragement, physical touch, and acts of service. This is also true. Gary Smalley has written books. James Dobson has written books. Ellen Kreidman has written books. And all the books in the world are helpful and at the same time not. Here’s why.

Women aren’t a formula.

Every woman is different. Every woman is complex. Every woman is mysterious. And just about the worst thing you can do is think that she can be solved like some math equation. Men, by contrast, are not all that complex. This is why men and women don’t understand each other. Women often refuse to believe men are so simple. Men often can’t grasp that women are so complicated.

Yet God is represented in both of these. He is at once both absurdly simple and astoundingly complex. He is straightforward and mysterious. In other words, God made it so that women could learn about Him by understanding men and that men could learn about Him by understanding women. That’s why marriage is such a rich theological gift.

And your part, husbands, is the harder one. Though the task is simple (to make her feel loved and precious beyond comparison), the method is not simple. Although I can confidently tell her what to do in general to make you happy (see my previous article), I cannot tell you the same about your wife. You have to figure that out for yourself, and, even if you figure her out today, it may be a new puzzle tomorrow or the next day.

That’s okay. That’s one side of God’s nature you’re experiencing. If it frustrates you, you’re really just admitting you’re frustrated with God. But if you take it as the greatest challenge with the neatest reward, then you’ve suddenly discovered something far more interesting than fantasy football ever can be.

But if I can’t give you a formula, why did I bother writing this? Because if I can merely get you to recognize the nature of the challenge and stop thinking that there is a four-step plan you can follow to nurture a great wife, I’ve already helped you immensely.

Let me conclude with a personal example. Most women like surprises. My wife hates them. Most women like to be given sweets such as chocolate. My wife likes it once but then gets angry because she worries it will make her fat. Most women like to be given lavish gifts that show their value. My wife considers that a waste of our carefully managed budget. Most women like to celebrate anniversaries. My wife couldn’t care less. So what do I do?

Well, I could ignore everything I know about her by surprising her with an expensive chocolate extravaganza on our anniversary. Then I could pride myself for having followed a set of rules that would apply for most women as I sit back to enjoy the fruits of my stupidity. Or I could let her purchase season 10 of Little House on the Prairie on DVD for herself at Target on sale two months before our anniversary. Guess which one I did? And she was quite satisfied with that. We must give our wives what they truly want, not what we think they want … just like God.

So, what’s the lesson? Learn what YOUR wife needs from you to feel loved, and then give it to her. Pay attention. Really pay attention. Try some experiments, and see how it turns out. If you find something that works, try it some more. Never stop trying to impress her with the things you will do to make her feel loved. But also never forget that she’s a woman, not a formula… just like God.

And if you follow this simple (and completely unsimple) advice, I suspect you’ll find yourself married to a great wife. At the very least, she’ll appreciate you trying so hard to understand and satisfy her … just like God.

Source: Crosswalk

Labels:


read more...

Saturday, December 13, 2008

Wanna Break Free

I want to break free
I want to break free
I want to break free from your love
You're so self satisfied, I don't need you
I want to break free
God knows, God knows I want to break free


Am I in a bad mood? likely
Am I in trouble? likely
Am I mad? a bit
Am I upset? a bit
Am I in doubt? absolutely.


Really can't tell how I feel..
I only know if somebody give me a one way ticket to get out of here, I'll take it without a second thought.

What's happening to me? I don't know. I know the reason, I just don't know what to do. What I know is that I want to run away, and break free..

Have you ever been in a crossroad when you have no idea which way to go and a train is coming at you so you have to think real fast to make your decision before it run you over?

Or, have you ever decided to keep walking in the path that you know leads to a ravine because you was confident that you can jump far enough and safely cross over or else even if you'll fail, you're pretty sure that the ravine is not so deep that you won't get injured so bad so you can still cross over and manage to move forward, but, suddenly after getting closer to the ravine and realize how deep it is and how hurt it would be if you fail to make it cross, you hesitate, and think again whether you really want to continue or not?


that's where i'm at right now... suddenly i'm really scared to move forward and cross over.

I know that I should hold on to my faith, but I can't help wanting to go back or run away.

Labels:


read more...

Monday, September 1, 2008

Yang Terbuang

Sebenernya ni post dah lama mo gw tulis. Sebuah pengalaman mendalam yg hanya sekilas dr suasana liburan gw yg glamour di yogya (ciehh...) Mksdny buang2 duit g jelas gt, dah jelas liburan gw g bakal se-glamour liburanny paris hilton brpun dia lg ngirit (seandainya paris hilton pernah ngirit).

Jadi kejadiannya waktu liburan gw tinggal sehari lg. Krn g tau mo kemana, akhirny me n my hunny pergi ke kaliurang. Di hari Jumat siang yg panas habis makan batagor mang mudi di perempatan jakal, yg direkomendasikan sepupu tercinta, Bli Nyoman Andre Ramayadi (wuih, lengkap nok. Cuman sayang, ga kebagian oleh2.. :P. Maap boss). Trus kita kesana deh, lewat jalan yg dulu sering gw lewatin semasa kuliah. Kangen rasany, dah 2 taon g ke ygy.. Lewatin UII, kampus temen2 sekos gw yg ampir smuany anak2 UII. Jd biarpun kuliah di atma, gw lmyn sering jg lancong ke UII. Tambah bnyk t4 nongkrong n ngopi di sekitaranny, sayang g sempet mampir. N teruss.. naik naik ke puncak gunung.

Singkat cerita, di sepanjang jalan menuju kaliurang itu bnyk terdapat tempat2 pelayanan masyarakat kaya RSJ Pakem, yayasan yg membina org2 cacat tubuh, dll. Nah, dah mo deket kaliurang ni, mata gw tertuju pada papan nama "Yayasan Panti Asih". G tau gw yayasan apaan itu, maka iseng2 nanya ma my hunny "Tuh tempat apaan ya?". Dia jwb, "Oh, itu tempat yg nampung org2 jompo..". Trus crita deh dia, klo dulu pas sma pernah ngumpulin duit n sumbangan lain ma temen2 smany buat org2 disana. Ow.. ternyata tempat kakek nenek jompo... Hmm.. g tau jg dapet pikiran drmana gw tiba2 aja pengen kesana. Seumur2 gw lom pernah masuk panti jompo. Oya, sebelom liburan gw dapet imel tentang cerita seorang ayah yang dimasukin anak2nya ke panti jompo. Kasian.. Mungkin gara2 imel itu gw jd terinspirasi pengen liat2 kesono.

Jadilah gw masuk ke Panti Asih tersebut dalam perjalanan pulang dr kaliurang, setelah muter2 g jelas dan berfoto2 di Gardu Pandang. G tau jg sih mandang apaan, secara kagak ada yg bs dipandang, krn merapiny ketutupan kabut..

Di Panti Asih itu kita ketemu Ibu Kepala disana, namany Bu Tutik. Bu Tutik ini dah mengabdi di Panti Asih dr taon 70an cing! Jd semenjak gw msh lom direncanain n abang gw msh asyik dimanj2ain ma papa mama (setelah gw lahir dah nggak lg, wihihihi..) n pastiny BBM msh murah n blom bnyk demo kek skarang.. (ye, pa hubungannye?). Trus diajaklah kami berkeliling menemui penghuni2 disana. Ternyata my hunny salah. Bukan (cuma) orang jompo yg dirawat disana. Lebih Tepatnya Panti Asih itu adalah penampungan org2 cacat keterbelakangan mental (ada yang dibarengi dengan cacat tubuh lainnya juga). Hmm... ic ic. Yah, jujur aja, perasaan diajakin keliling nengok orang2 cacat mental beda sama kalo diajakin nonton bioskop or ke waterboom. Tapi.. gw dah terlanjur disono, masa mo kabur?

Nah dengan perasaan yg dagdigdug tentunya, kami mulai berjalan menuju tempat dimana anak2 dan orang2 itu berada. Yah sambil ngobrol2 kecil.. trus Bu tutik membuka sebuah pagar, lalu setelah melangkah masuk dan melihat apa yang ada di sana, sebenerny yang pengen gw lakukan adalah kabur lalu naek motor dan ngebut pulang. Which of course I didn't do, because that would be too rude. But still, till today, I know I was guilty just to felt that way..

Yang namanya orang2 cacat mental, tanpa dilebih2in dan dikurang2in, emang gitulah mereka. Kalian pada ngerti sendiri lah.. Cuman, gw blom pernah melihat yang sebanyak ini pada suatu waktu, di satu tempat sekaligus. Yang semuanya sedang memandang ke arah kami...

They were looking at us, and we were looking at them, we were looking at each other. And I was busy telling myself to calm down n relax, and move forward.. Dan tampaknya Bu Tutik mengerti, dia ngajak ngobrol terus dan membuat suasana santai dengan mengenalkan pada pasien terdekat, yang lagi ada di kursi roda. Anak ini selain menderita cacat mental juga ternyata lumpuh total... I was speechless. Perasaan campur aduk. Gw cuma mikir, gimana klo dulu Tuhan memutuskan bahwa gw aja yg ada disana dan dia yg ada di tempat gw sekarang.

Bisa aja kan?
Mereka juga ga pernah minta untuk dilahirkan seperti sekarang. Semua tergantung nasib.

Lalu beberapa pasien lain mulai mendekat... Gw masih berusaha memenangkan perang dengan keegoisan gw sambil menyalami mereka satu persatu. Keegoisan yg bilang bahwa semua ini ga ada hubungannya sama gw, bahwa mereka adalah orang2 aneh dan gw harus kabur dari sini secepatnya. Yes, I'm suck. Yes I'm selfish n heartless. Whatever you say.

But I was smiling, what a hypocrate I was... Ada 4 pasien yang kami salami, dan dekat2 kami sampe kami pulang. Yang satu bolak balik nyalamin kita sambil nangis dan menggumamkan kata2 ga jelas. Dan gw harus bilang bahwa gw lega cuman 4. Yang lain diam di tempat mereka. Gw ga terlalu mikirin sih, tapi gw jg ga kesana untuk memeluk mereka. Bu Tutik cerita, bahwa mereka disini bukan karena nggak punya keluarga. Tapi memang sengaja 'dititipkan' disini. Dan suara hati gw yang jujur itu langsung bilang, "maksud lo mereka dibuang ama keluarganya kesini."

Ada satu anak yang usianya 9 tahun. Namanya Indri, dan sebagai orang yg selalu lupa sama nama orang, cuma anak inilah yang namany gw inget ampe sekarang. Dia punya masalah sama pendengarannya, dan penglihatannya juga ga sempurna. She was only 9 years old. Dan gw ga pengen tau ada dimana orangtua dan keluarganya saat ini. Karena gw jg g bisa meramal apa yang akan gw lakukan kalo seandainya gw yg jadi ortu ato keluarganya. Selama kami disana, Indri terus ngegelayut di gw, n I don't mind. She was a pretty little girl, in her own way... Ada perasaan yg jauuuh di dalam hati gw, rasanya pengen gitu gw bawa pulang. Love her and protect her. Tapi tentu saja ada suara laen yg lebih kenceng, yaitu suara keegoisan bercampur rasional, "get real, ngurus anjing satu aja lo ga becus! Lagian ngapain mo bawa pulang anak orang.." Langsung aja suara yg yg jauh n sayup2 tadi kontan diem. Dan yg gw lakukan hanya mengelus2 Indri. Berharap dengan elusan yg beberapa menit itu akan menolongnya untuk merasakan perhatian dan kasih sayang yang seharusnya dia terima setiap hari dalam skala besar dari keluarganya, yan telah direnggut darinya selama bertahun2..

Pasien2 disana rata2 "dititipkan" (baca: dibuang, i won't candy coated this fact) oleh keluarganya sendiri. Seberapa sering ditengok Bu? Bu Tutik cuman ketawa. Jangankan ditengok mbak, masih inget mbayar aja sudah sukur... Gw hanya makin speechless. Sampe kapan dong mereka disini Bu? Bu Tutik cuma ketawa lagi, ya sampe kapan ya mbak? Ya sampe terus... Ia ketawa lagi. Tapi kan diajarin ya bu (what an idiot - -) Ya, diajarin tapi ya paling gitu2 aja mbak. Diajarin supaya nggak ngompol, diajarin pake baju sendiri, makan yang bener, gitu2. Tapi banyak yg sering lupa, msh banyak yg bertahun2 jg masih ngompol.. Olala, gw kek digetok pake palu. Baru sadar, klo orang cacat mental itu jg berarti ada masalah sama otaknya.

Pasalnya gini, selama ini gw slalu ngingetin diri gw untuk nggak mengasihani orang2 cacat, karena somehow n someway, Tuhan pasti ngasih mereka jalan untuk mereka berdikari, kalo mereka mau usaha, tentunya lebih susah dari kita2 yang normal ini. Tapi pastilah mereka bisa usaha sendiri gitu, as long as they want to. Namun hari itu, gw baru sadar, kalo ada orang2 yg emang selamany g akan bisa berdikari. Misalny ya orang2 yg cacat mental ini. Apalagi yg selaen cacat mental juga cacat tubuh. Ngajarin untuk nggak ngompol aja susahnya setengah mati. Kebanyakan mereka semenjak dititipkan akan tetap disana, sampe mereka berhenti bernafas mungkin.. Ada yg dari taon 70 jg mbak... Kata Bu Tuti.

Ketika gw melangkah keluar dari sana, naik motor dan pulang ke yogya, gw tau, bahwa yang paling berarti dari liburan gw selama seminggu ini adalah kunjungan gw ke Panti Asih.

Dan gw jg mau kalian semua tau. Apalagi yg ky gw, yg sehari2nya slalu komplen sama keadaan sekarang. Bosenlah, kerjaan kelewat beratlah, or ini itu. Di luar sana ada banyak orang2 yang akan dengan senang hati mau bertukar tempat dengan kalian.

Dan coba pikirkan ini,

Dulu... di suatu tempat di luar sana, ketika Tuhan lagi merencanakan seluruh kehidupan manusia, dimana kita ini begitu banyak dan sama semuanya, kita lah yang ditempatkan-Nya di tempat mereka sekarang, mereka yang cacat mental, yang hidup dalam perang, yang hidup dalam kemiskinan yang amat sangat... Kenapa nggak? Apa bedanya kita sama mereka? Gw sering mikir gimana kalo seandainya gw yang jadi Paris Hilton, gimana kalo seandainya gw yg jadi anaknya Bill Gates..
Gimana kalo gw yg terlahir sebagai Indri? Yang dipandang oleh seorang mbak2 dan mas2 yg ga tau darimana asalnya ini, yang sekarang lagi ngelus2 kepala gw?


Tulisan ini bukan untuk menghakimi, menghujat, meminta bantuan, or apa. Tulisan ini gw post krn gw pengen aja. Sapa tau berguna dan ada yang tergerak...

Labels:


read more...

Tuesday, July 15, 2008

THE ROOM

Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip yang bertanda “Teman-teman yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. “Buku-buku Yang Aku Telah Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”. “Penghiburan yang Aku Berikan”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”. Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: “Makian Buat Saudara-saudaraku”.

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: “Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.”, “Gerutuanku terhadap Orangtuaku”. Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda “Pertunjukan-pertunjukan TV yang Aku Tonton”, aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”, aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul “Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil”. Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah “Jangan, jangan!” ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, “Sudah selesai!”

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Labels:


read more...

Thursday, July 3, 2008

The 'LITTLE' things

After Sept. 11th, one company invited the remaining members of other companies who had been decimated by the attack on the Twin Towers to share their available office space.

At a morning meeting, the head of security told stories of why these people were alive... And all the stories were just: The 'LITTLE' things.

As you might know, the head of the company survived
That day because his son started kindergarten.

Another fellow was alive because it was
His turn to bring donuts.

One woman was late because her
Alarm clock didn't go off in time.

One was late because of being stuck on the NJ Turnpike
Because of an auto accident.

One of them
Missed his bus.

One spilled food on her clothes and had to take Time to change.

One's Car wouldn't start.

One went back to
Answer the telephone.

One had a
Child that dawdled
And didn't get ready as soon as he should have.

One couldn't Get a taxi.

The one that struck me was the man
Who put on a new pair of shoes that morning,
Took the various means to get to work
But before he ! Got there, he developed
A blister on his foot.

He Stopped at a drugstore To buy a Band-Aid.

That is why he is alive today.

Now when I am
Stuck in traffic, miss an elevator,

Turn back to answer a ringing telephone...

All the little things that annoy me.
I think to myself,
This is exactly where

God wants me to be
At this very moment..

Next time your morning seems to be
Going wrong,
The children are slow getting dressed,
You can't seem to find the car keys,
You hit every traffic light,
Don't get mad or frustrated;

God is at work watching over you!

May God continue to bless you
With all those annoying little things
And may you remember their possible purpose.

Labels:


read more...

Thursday, March 27, 2008

Life is the way we look at it

Do you believe it?
That life is just the way you look at it.
If you see it good, then it is good..
If you see it tough, then it is tough..
Life is full of choice,
even you have to choose the way you look at it
And there're 2 things about choice.
Good choice, and bad choice...
Sad part is that there're times when you just don't know
which one is the best choice...

Like me now...

But that's one thing about experience,
which is the best teacher,
it hits you in the beginning, and give the lesson afterwards...

So what,
I just give myself to be hit
Then swallow the lesson afterwards

Then I'll become wise...

Hopefully..



Man I'm bored....
Zzz..zz..zzz...zzzzz......

Labels:


read more...

Tuesday, March 25, 2008

B'day girl

So it's my birthday.
I'm getting old....

But somehow I don't feel like being maturer.. (sigh...)
Still feeling like a seventeen... :D

Labels:


read more...

Wednesday, March 19, 2008

Idle

Been idle 4 coupla days...

Anyway, I'm glad my team should have our DIL burnt, which means extended holidays.
Yipppyy....!!!
Long long weekend ahead..!!
Dont have any idea where to go, though...

Btw, Happy Easter, may peace be on Earth

Jesus bless you all...

Labels:


read more...

Testing

I read somewhere that better choose black as the background of ur blog, cause that consume less energy.
So, I pick black.

Labels:


read more...